Langsung ke konten utama

9 RAMADHAN 1334 HIJRIYAH, BERKAH UNTUK INDONESIA

 



“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dll. diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.


Kalimat tersebut merupakan penggalan dari teks Proklamasi Indonesia yang dibacakan oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh Drs. Moh Hatta di depan rakyat Indonesia di kediaman beliau Jl. Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Pembacaan naskah proklamasi ini merupakan titik balik dalam sejarah bangsa Indonesia, karena sudah sekian lama Indonesia menjadi negara yang terjajah. 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadhan, Indonesia resmi menyatakan kemerdekaannya. Bukan perkara mudah untuk Indonesia menyatakan kemerdekaan, begitu banyak kerikil tajam yang harus dilalui pemimpin dan pejuang Indonesia dan begitu banyak darah yang bercucuran untuk kita mempertahankannya.

Sejarah Indonesia untuk lepas dari belenggu penjajahan asing sudah cukup lama. Sejak kedatangan Portugis di Maluku tahun 1512, Indonesia yang pada waktu itu masih dikenal dengan Nusantara dan masih terdiri dari kerajaan-kerajaan perlahan mulai dikuasai bangsa Eropa. Mulai dari monopoli perdagangan hingga merambah ke ranah politik kerajaan, bangsa Eropa secara bergantian menguasai wilayah di Nusantara. Berbagai upaya dilakukan untuk melepaskan diri, mulai dari perjuangan bersenjata yang masih bersifat kedaerahan hingga muncullah konsensus nasional berupa Sumpah Pemuda di tanggal 28 Oktober 1928. Secercah harapan mulai muncul ketika sekelompok pasukan yang mengaku dirinya sebagai saudara tua menginjakkan kaki di wilayah Indonesia. Namun ternyata itu bukanlah akhir, karena perjuangan bangsa Indonesia masih belum berakhir.

Tarakan 11 Januari 1942, sekelompok pasukan Right Wing Unit dan pasukan Angkatan Laut Kure menginjakkan kaki di wilayah Kalimantan Timur. Berusaha menarik simpati rakyat mengaku sebagai saudara tua Indonesia, dengan semboyan 3A (Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia). Kedatangan pasukan Jepang ini tentu memicu pertempuran dengan tentara KNIL Belanda yang memang ditugaskan untuk mempertahankan wilayah Kalimantan dari serangan Belanda. Lebih dari setengah pasukan Belanda yang gugur dalam pertempuran tersebut, akhrinya tanggal 12 Januari 1942 pasukan KNIL menyerah dan Tarakan resmi menjadi wilayah pertama yang jatuh ke tangan Jepang. Kemudian, Jepang pun mulai menguasai wilayah Balikpapan, Samarinda, Pontianak, Banjarmasin dan Palembang.


Pada tanggal 8 Maret 1942, dilakukan perundingan antara pihak Belanda, Letnan Jenderal Ter Poorten, dan pihak Jepang, Jenderal Hitoshi Imamura beserta Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer. Hasilnya, tercapai Kapitulasi Kalijati yang menandai berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia yang digantikan oleh pihak Jepang. Tujuan Jepang untuk menguasai wilayah-wilayah di Asia dikarenakan ambisinya untuk menjadi penguasa di wilayah Asia Pasifik, dan memenangkan Perang Dunia II. Tentu saja Indonesia menjadi negara tujuan dalam misi tersebut, selain kaya akan sumber daya alam yang tentunya sangat dibutuhkan dalam menunjang bahan baku perang seperti karet untuk keperluan pembuatan ban dan sepatu. Masa pendudukan Jepang di Indonesia yang berlangsung selama kurun waktu ± 3,5 tahun ini menyisakan begitu banyak luka bagi rakyat Indonesia. Mulai dari kebijakan politik, militer, hingga sosial budaya, banyaknya para romusha yang dipekerjakan, jugun ianfu yang menjadi korban, hingga seluruh pemuda yang dikerahkan untuk menuju medan perang.




Tindakan sewenang-wenang pemerintah Jepang terhadap Indonesia memicu berbagai perlawanan dari rakyat. Seperti perlawanan dari para tokoh Agama yang menentang pelaksanaan seikirei yaitu K.H. Zaenal Mustofa, perlawanan dari Peta di Blitar yang dipimpin oleh Supriyadi yang tidak tahan dengan penderitaan rakyat akibat tindakan pemerintah Jepang, hingga gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh sekelompok pemuda. Hal-hal tersebut membuat pemerintah Jepang yang pada dukungan Indonesia untuk memenangkan Perang Dunia II mencoba mengambil simpati rakyat dengan janji kemerdekaan dengan dibentuk Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) tanggal 1 Maret 1945 sebagai langkah awal untuk menyelidiki hal-hal yang perlu disiapkan untuk pembentukan negara merdeka. Belum selesai Indonesia dalam melakukan persiapannya menjadi negara merdeka, tiba-tiba seperti mendapat sebuah berkah. 6 Agustus 1945 beberapa hari sebelum Bulan Ramadhan, Hiroshima sebagai pusat industry dan militer pemerintah Jepang dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat. Amerika Serikat yang sebelumnya mendapat serangan dari Jepang di Pangkalan angkatan Laut AS Pearl Harbour Hawaii tanggal 7 Desember 1941 melakukan aksi balas dendam dengan mengirimkan Pesawat Enola Gay yang dikawal oleh pesawat The Great Artiste dan Necessary Evil, yang ditugaskan menajtuhkan bom atom ‘Little Boy’ di Hiroshima. Dampak dari dijatuhkannya bom atom di Hirsohima sungguh luar biasa, dalam kurun waktu 4 bulan paca peristiwa korban tewas sudah mencapai 146.000 orang, baik yang meninggal seketika maupun akibat dari radiasi dari bom atom tersebut. Tiga hari berselang tepatnya pada 1 Ramadhan 1334 H atau tanggal 9 Agustus 1945, dikarenakan Jepang masih belum mematuhi ultimatum dari Amerika Serikat, maka dijatuhkanlah bom atom di kota pelabuhan terbesar sekaligus kota industry yaitu Nagasaki.



Pengeboman di dua kota besar Jepang ini, kemudian didengar oleh golongan pemuda, sekembalinya Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta dari Dalat, para pemuda berkumpul dan mendesak supaya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia segera di laksanakan.  Pada tanggal 16 Agustus 1945, dini hari, terjadilah peristiwa Rengasdengklok , yakni upaya pengamanan terhadap Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghindarkan keduanya dari pengaruh Jepang dan meyakinkan kembali agar proklamasi kemerdekaan Indonesia segera dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang. Perundingan tersebut berlangsung cukup alot, hingga tercapailah kesepakatan antara Ahmad Subardjo dan Wikana bahwa Proklamasi akan dilaksanakan paling lambat 17 Agustus 1945. Kemudian Kamis malam hingga Jumat dini hari, kedua tokoh tersebut bersama para pemuda melaksanakan rapat untuk merumuskan teks proklamasi kemerdekaan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Mengingat hari itu juga Bulan Ramadhan, para tokoh juga melaksanakan makan sahur dikediaman Laksamana Maeda.

Pada 17 Agustus 1945 atau tepat pada 9 Ramadhan 1334 Pukul 10.00 WIB, akhirnya dilaksanakanlah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di depan kediaman Ir. Soekarno. Pembacaan proklamasi disertai pengibaran bendera merah putih yang dijahit Ibu Fatmawati. Berkah yang luar biasa bagi Bangsa Indonesia dan umat Islam bahwa Indonesia menjadi negara yang merdeka bertepatan dengan hari Ramadhan dan pada hari Jumat, yang merupakan hari yang baik bagi umat Islam. (sfs.)

Komentar