Langsung ke konten utama

Memaknai “Toleransi”



Indonesia merupakan negara majemuk yang memiliki berbagai macam agama, suku, adat istiadat, bahasa, dan budaya. Pada dasarnya, mempertahankan negara yang majemuk pasti akan sulit. Maka, diperlukan pengikat untuk mempertahankannya. Pengikat yang dimaksud adalah toleransi.

Bhinneka Tunggal Ika”, itulah semboyan yang selama ini telah menghadirkan sikap toleransi dalam kehidupan rakyat Indonesia. Semboyan ini merupakan gagasan yang ditulis oleh Mpu Tantular dalam kitab Sutasoma. Gagasan yang dinilai memiliki arti yang luas dan mendalam ini, seakan-akan telah mendarah daging dalam diri setiap rakyat Indonesia. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan yang muncul dalam negara Indonesia tetap dapat bersandingan dan mampu berjalan berdampingan hingga saat ini.

 

  Selain dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai umat Islam tentu juga harus memiliki sikap toleransi. Lalu bagaimana agama Islam memandang sikap toleransi tersebut? Sebagai agama yang rahmatallil ‘aalamiin, agama Islam sangat menganjurkan umatnya untuk memiliki sikap toleransi. Hal ini telah ditegaskan pada firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al Kafirun, Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menjelaskan kepada kaum Kafir bahwa Nabi Muhammad tidak akan dan tidak pernah menyembah apa yang orang kafir sembah, dan sebaliknya. Pada surat tersebut, dapat diartikan bahwa sikap toleransi dapat berarti sikap saling menghargai dan tidak memaksakan kehendak dalam menanggapi adanya perbedaan dalam beragama atau berkeyakinan.

  Dalam menanggapi perbedaan keyakinan, hendaknya setiap individu mampu bersikap saling menghargai dan tidak memaksakan kehendak. Menghargai setiap kegiatan atau pun perayaan yang dimiliki agama lain dengan cara tidak menghina, menghalangi, dan menganggu aktivitas keagamaan serta peribadahan mereka. Tidak memaksakan kehendak kepada pemeluk agama lain untuk memeluk agama Islam ataupun memaksakan kehendak untuk mengikuti segala syariat ataupun bahkan perayaan dalam agama Islam. Demikian pula sebaliknya.

(tkc.)

Komentar